Masih lekat dalam ingatan kita, pada bulan Desember tahun 2004, bumi Aceh diguncang gempa dengan kekuatan 9,1 SR hingga menyebabkan tsunami yang meluluh lantakkan sebagian wilayah tersebut dan kini kita diuji kembali dengan bencana yang sama. Gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, beserta wilayah sekitarnya seperti Sumbawa dan Bali pada hari Minggu (29/7/2018). Kemudian, gempa susulan terjadi kembali hingga ratusan kali dengan berbagai kadar kekuatan yang lebih kecil. Namun, pada hari Minggu (5/8/2018) gempa dengan kekuatan 7 SR lagi-lagi mengguncang Lombok dan wilayah sekitarnya serta diikuti oleh gempa susulan juga.
Berita gempa tersebut ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi. Di media sosial, beredar begitu banyak foto maupun video yang menggambarkan suasana mencekam akibat gempa. Sekitar 67.875 unit rumah runtuh porak-poranda. Lebih dari 347 orang dikabarkan meninggal dunia, banyak pula yang luka-luka. Ada yang kehilangan sanak saudara, tak sampai di situ, mereka juga kehilangan tempat tinggal. Kini, korban-korban bencana itu tinggal di camp-camp pengungsiang yang tersebar di banyak titik.
Tak terbayang bila yang ditimpa bencana itu adalah kita. Kehilangan sanak saudara, rumah, dan harta bagi sebagian besar orang, barangkali termasuk kita pula, adalah pukulan yang menyakitkan. Mereka membutuhkan uluran tangan kita, baik berupa rapalan do’a maupun kebutuhan logistik. Puji syukur, banyak hati tergerak untuk membantu. Dapat kita lihat, berbagai pamflet atau poster donasi terpampang di media sosial. Lembaga-lembaga kemanusiaan beserta aktifis-aktifisnya tanggap bergerak terjun ke medan bencana.
Gempa adalah salah satu fenomena alam. Penyebab gempa ada berbagai macam, akan tetapi yang paling populer adalah karena disebabkan oleh aktifitas lempeng (tektonik) dan disebabkan oleh pergerkan magma di dalam gunung berapi (vulkanik). Sementara itu, menurut keterangan BMKG, gempa yang terjadi di Lombok diakibatkan oleh naiknya patahan Flores dengan ujung sesar Flores yang berada di bawah Pulau Lombok tepatnya pusat gempa terdapat di bawah lereng Gunung Rinjani.
Benar sekali bahwa gempa itu terjadi di Lombok, tetapi ia juga merambat ke daerah sekitarnya. Kita yang hanya menyaksikan, apakah tak mau memetik pelajaran? Apa hal yang perlu dibenahi dari diri kita? Memang alamlah yang bergerak namun siapa yang menggerakkan alam kalau bukan Yang Maha Kuasa? Jikalau langit bumi tunduk patuh pada kehendak-Nya, tatkala bumi diperintah Allah untuk berguncang lalu ia patuh, mengapa kita sebagai makhluk pemakmur bumi enggan? Di dalam al Qur’an, Allah S.W.T berfirman:
“Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (Al-A’raf: 96).
Kepada orang-orang beriman, Allah menghendaki bencana untuk mereka sebagai ujian. Di dalam musibah itu, keikhlasan serta ketabahan hati mereka menuai pahala yang besar. Sebagai catatan, peringatan tidak khusus ditimpakan kepada mereka yang menentang aturan Allah, namun juga ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Termasuk di dalamnya individu-individu taat nan sholih. Pertanyaannya, sudahkah masyarakat kita beriman dan bertaqwa? Sudahkah kita menjadikan al-Qur’an sebagai sebenar-benar panduan hidup? Sudahkah kita mematuhi perintah dan menjauhi larangan Sang Pencipta Alam sekaligus Pengatur Semesta? Nampaknya kita harus jeli dengan bahasa alam serta peka dengan tanda-tanda kemahadayaan Allah dalam mencipta dan mengatur semesta.
Lombok adalah bagian dari bumi dan penduduknya adalah penduduk bumi sebagaimana kita. Apa yang masyarakat Lombok rasakan seyogyanya kita juga berusaha berempati dan membantu. Lombok tidak hanya dikenal dengan wisata halalnya, pulau ini juga memiliki julukan pulau seribu masjid. Mari sama-sama membenahi diri serta berkontribusi dalam memperbaiki masyarakat dan negeri kita sebagaimana yang Allah gariskan. Semoga dengan itu, negeri kita dilimpahkan rahmat dan berkah-Nya sehingga pantas menyandang gelar baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.
Wallahu a’lamu bish showab.
Sumber foto: Kompas.com


